Mar 13, 2019

Hidup Bukan Untuk Makan Tapi Untuk Hal yang Lebih Gila

Pernah dengar ungkapan bahwa hidup memang bukan untuk makan? Tapi Makan untuk hidup! Benar! Terbukti bahkan tanpa perlu ungkapan itu tetap saja terbukti.

 Perenungan remeh ini membuat aku ingin menuangkannya di blog gadogado ini, lumayan lah buat memenuhi list artikel.

Begini, berhubung aku seorang pengangguran maka kadang daku suka memikirkan hal-hal yang tidak penting / remeh bagimu, tapi tidak bagiku. Perenungan remeh ini membuat aku ingin menuangkannya di blog gadogado ini, lumayan lah buat memenuhi list artikel.


Kebetulan aku lahir dan tumbuh besar di kampung yang kental dengan ajaran agama dan budaya. Di kampung kalo lagi musim kawinan / tasyakuran / kirim doa / tahlilan / hajatan aku sering menjumpai banyaknya makanan yang bisa dibilang terbuang sia-sia. Kadang miris juga bila terngiang tentang berita kelaparan yang masih menjadi momok di beberapa negara. Makmur sekali hidup di Indonesia!

Hidup Bukan Untuk Makan

Menarik benang dari permasalahan tentang banyak makanan yang terbuang sia-sia semakin menguatkan teori bahwa hidup memang bukan untuk makan meski untuk hidup memang diperlukan makan makanan.

Kemudian jika hidup bukan untuk makan maka hidup untuk apa? tentunya jawabnya akan sangat kompleks, tetapi dasar utamanya adalah nafsu, hidup untuk nafsu. Nafsu sendiri menurut ahli sepiritual sebenarnya dapat ditaklukkan, cuma bukan perkara mudah.

Kita bicara nafsu-nafsu yang susah dikendalikan sehingga nafsu ini melahirkan jargon Harta Tahta Wanita. Iyah jika hidup bukan untuk makan yang seolah menyiratkan makna positif tetapi saat kita distorsikan lebih lebar maka hidup ya untuk nafsu.

Makan cukup dua kali, setelah kenyang kita ngapain saja? Tentunya ya mengumbar nafsu yang ahli memalsukan dirinya / berkamuflase sampai-sampai dapat mengecoh diri pemikiran dalam diri.

Yang Gila Harta membekali diri dengan teori hidup bukan untuk makan tapi mengumpulkan harta sebanyak-sebanyaknya hingga lupa bahwa kekayaannya memprovokasi orang-orang sekitar yang masih miskin fasilitas kebahagian dalam rumah tangga.

Belum lagi ketika suatu waktu aku menjadi kuli di proyek bangunan mendengar kisah tentang seorang kuli yang hidup sangat hemat / irit untuk sebuah tujaun dalam mimpinya sehingga membuatnya rela setiap hari mengkonsumsi mie instan supaya dapat mengunci pundi-pundi penghasilannya.

Tapi ketika uang sudah terkumpul banyak kemudian dia pulang kampung, eh malah dia K.O sakit hingga membuatnya mengeluarkan banyak uang untuk biaya pengobatan. Hidup bukan untuk makan tapi untuk mengumpulkan harta yang ia cita-citakan ternyata berujung kesengsaraan.

Yang Gila Tahta, Gila Wanita juga tidak akan beda jauh dengan membenarkan kamuflase hidup bukan untuk makan. Hidup bukan untuk makan tapi makan untuk hidup dan untuk makan kita perlu hidup. Muter-muter saja terus.

0 komentar