Warna-Warni Pemilu 2019 Dalam

Catatan Elite Di Pemilu 2019 | Ini adalah catatan ringan seputar Pilpres 2019, beberapa kejadian aneh, lucu dan menggemaskan dari mulai kampanye sampai pelantikan presiden terpilih. Berikut adalah beberapa catatan para elite yang sempat untuk ditulis, untuk dapat dikenang atau mungkin juga dapat menjadi "bahan".

1. Amin Rais Mengkampanyekan Untuk Berdoa Supaya Tuhan Mengalahkan Jokowi

Dilansir dari Seword Amin Rais berucap "Jadi anda itu sekarang perlu berdoa jadi tiap sore ya tiga menit saja 'Ya Allah semoga engkau memberikan bangsa yang tercinta ini sebuah presiden baru yang cinta kepada agamamu, yang tidak akan mengkriminalisasi ulama, tidak akan menjual kekayaan bangsa ke asing dan aseng. Kalau belasan juta tiap hari itu berdoa, Allah malu tidak mengabulkan"

Sisi yang lucu dan menggemaskan adalah fakta bahwa Jokowi itu dekat dengan para ulama dan para habib, semisal Mbah Kyai Haji Maimun Zubair, Habib Lutfi dan masih banyak lagi ulama-ulama panutan. Maka di mana letak kriminalisasi ulama yang Amin maksud?

2. Ratna Sarumpet Bersandiwara Hingga Menyeret Fitnah Atas Opini Publik

Ratna Sarumpet bohong perihal dirinya dianiaya oleh beberapa orang yang kemudian menggiring opini publik bahwa pelakunya dari kubu yang berseberangan dengan kubu Ratna. Sebenarnya itu bukan masalah sebab dia bisa jadi hanya berusaha menyenangkan kelompoknya.

Yang bikin gemas dan lucu adalah beberapa orang terhormat nan 'pintar' dengan tergesa-gesa membenarkan apa yang dialami oleh Ratna Serumpet bahwa yang dialami Ratna adalah kekerasan dalam ranah politik. Itu jelas tuduhan yang tergesa-gesa dan mengarah pada kubu lawan politik mereka.

Pilpress Pemilu 2019


Dan ternyata usut punya usut wajah lebam pada mbah Ratna ternyata karena efek operasi plastik. Hingga tulisan ini dibuat beliau masih menjalani proses peradilan perihalmasalah ini.

3. Neno Warisman Takbiran Saat Mengklaim Sepihak Kemenangan

Entah semangat ber-ke-Tuhanan versi apa sehingga menggerakkan lidah Neno dan kawan-kawan beliau untuk mengumandangkan takbiran pada ruang politik sempit. Bahkan saat takbiran itu dikumandangkan pun hanya sebatas pada euforia yang janggal, dalam artian euforia itu masih semu sebab klaim kemenangan itu merupakan klaim sepihak yang bukan pengumuman maupun keputusan yang dikeluarakan oleh otoritas yang berwenang secara resmi.

Sebelumnya Neno juga sempat dikritik dan menjadi bahan ketawaan netizen perihal doa yang berkesan mengancam Tuhan.

4. Romahurmuziy Ditangkap KPK

Catatan Elite Di Pemilu 2019 selanjutnya adalah tertangkapnya Romahurmuziy yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan yang tentunya merupakan tokoh berpengaruh dalam partai. Dalam banyak lansiran media diantaranya wartakota.tribunnews.com, beliau diwartakan terindikasi terlibat dalam kasus jual-beli jabatan.

5. Habib Rizieq Terjerat Kasus

Ironi lainnya juga dialami oleh seorang Habib Rizieq, sosok yang oleh kebanyakan orang dikenal dengan watak tegas dan kritisnya terhadap Pemerintahan Jokowi ini terjerat kasus "percakapan nganu". Pemimpin Besar FPI [Front Pembela Islam] yang mempunyai banyak masa fanatik ini dalam perjalanan politiknya terdesak oleh hukum yang berlaku di Indonesia. Atas permaslahan ini, kini beliau tidak mau menetap di Indonesia.

6. Prabowo Mengklaim Sepihak Sebagai Pemenang

Ini adalah puncak kekonyolan dari hingar bingar perjalanan Pilpres 2019. Mengapa disebut puncak, karena klaim sepihak ini menjadi tontonan masyarakat demokrasi internasional. Selain warga, netizen dalam negeri yang menyesalkan sikap jumawa Prabowo dalam menyikapi hasil quick count, beliau juga menjadi bahan sindiran media luar negeri diantaranya theaustralian.com.au yang menulis judul "Loser Prabowo Claims Victory on Indonesia".

Sebagai orang besar, sikap Prabowo yang "mendahului" KPU dianggap sebagai tindakan melawan konstitusi. Bahkan politisi Budiman Sudjatmiko dalam twitnya menyentil bahwa sikap Prabowo sebagai bentuk kudeta karena Prabowo telah mengklaim sepihak bahwa beliaulah presiden terpilih dalam Pilpres 2019.

7. Hasil Ijtima Ulama 3

Sebelum "ijtima ulama" 3 ini sudah didahului oleh ijtima ulama 1dan 2. Banyak kalangan masyarakat yang kecewa dengan penggunaan istilah ulama di dalamnya. Sebab pemahaman mereka [aku juga] berujung pada pertanyaan "ulama yang mana?".

Menggemaskannya lagi, hasil ijtima mereka "para ulama" menyiratkan ketidakpercayaan kepada pemerintah [KaPeU] sebagai penyelanggara pemilu. Dengan dalih yang menggak-menggok dan muter-muter, intinya mereka ingin kemenangan pemilu presiden untuk Pak Prab0wo.

0 komentar

Post a Comment